Sejarah Desa

Administrator 26 Agustus 2016 15:38:09 WIB

Pada akhir masa perang tanah jawa atau yang dikenal dengan Perang Diponegoro tahun 1830 setelah tertangkapnya beliau oleh kompeni di magelang, satu tahun kemudian 1831 Raden Tumenggung Dipayudha IV diangkat menjadi Bupati Banjarnegara. Disebelah timur laut Kadipaten Banjarnegara salah seorang prajurit pangeran diponegoro mengasingkan diri diwilayah dukuh dengan struktur wilayah yang berlegak-legok (tidak rata-naik/turun) yang sekarang dikenal dengan nama dusun Ciledok. Beliau adalah seorang ulama sakti yang kemudian oleh penduduk setempat disebut sebagai Ki Ageng Bramasari, seorang petani yang memiliki sawah di daerah Pejawaran.
Dalam membajak sawahnya beliau menggunakan seekor kerbau yang berwarna kuning yang kemudian penduduk menyebutnya kerbau kuning. Setiap akan membajak sawahnya Ki Ageng Bramasari membuat tali dari bambu, untuk mengikat kayu bakar dan rumput pakan kerbaunya. Mata bambu yang terkelupas dan jatuh dalam beliau membuat tali, akhirnya tumbuh menjadi tanaman bambu yang sangat lebat dan rimbun, yang pada akhirnya menjadi sebuah kebun yang kemudian dipergunakan sebagai kandang kerbau kuning, yang saat ini terkenal dengan nama Kebun Sikandang. Kemudian pada saat Ki Ageng Bramasari hendak mengguyang (memandikan) kerbaunya beliau membuat cemethi (pecut) dari bambu, dan serat bambu yang tajam (inis) nya dibuang di Nggalur (daerah krajan) kemudian inis tersebut tumbuh menjadi kebun bambu yang rimbun, yang kemudian bambu tersebut dinamakan Pring Inis (bambu inis).
Karena lokasi sawahnya yang cukup jauh, yaitu didaerah Tlahab (Kec. Pejawaran), setiap pagi beliau membawa bekal makanan dibungkus daun dan dikancing dengan bithing (cinthingan). Lokasi beliau istirahat dan menyantap bekalnya, bithing yang ia buang lambat laun bertumbuk menjadi sebuah bukit, yang kemudian daerah tersebut menjadi sebuah permukiman yang diberinama Desa Bithing.
Salah satu petilasan (punden) Ki Ageng Bramasari di dusun ciledok adalah tempat sajadah yang sampai saat ini dikeramatkan oleh sebagian penduduk, tepatnya disebelah tenggara (timur agak ke selatan) kebun bambu sikandang yang saat ini sudah berubah menjadi lapangan yang diberi nama "Maheso Gadhing" oleh Bapak Camat Madukara Tenang Suparyo, BA pada tahun 2006, Maheso artinya Kerbau dan Gadhing artinya Kuning (bahasa jawa). Punden tersebut dilingkari oleh empat pohon beringin dan dipagar dengan turus (pagar tumbuhan hidup). Petilasan tempat sajadah tersebut tanahnya selalu menonjol keatas menyerupai gundukan, walaupun sudah diratakan berkali-kali selang beberapa hari selalu kembali membentuk gundukan seperti semula.
Pada suatu waktu, dusun ciledok tempat ia bermukim terjadi huru-hara. Seorang maling adiguna yang mencuri di perkampungan ditangkap oleh beliau dengan perkelahian yang sengit hingga Ki Ageng Bramasari lah yang keluar sebagai pemenangnya. Kemudian maling tersebut diarak/diseret sepanjang jalan hingga ke wilayah kademangan krajan yang saat itu dipimpin oleh Demang Udawijaya. Akhirnya lokasi sepanjang jalan dari Dukuh Ciledok ke Kademangan Krajan yang dilalui Ki Ageng Bramasari untuk menyeret maling tersebut ditetapkan menjadi sebuah desa yang dinamakan Desa Sered.

 

 

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun)

Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)

Nama
Alamat e-mail
Komentar
  CAPTCHA Image [ Ganti gambar ]
  Isikan kode di gambar
 

Video Sosialisasi Desa

Sinergitas Program

Layanan Mandiri


Silakan datang atau hubungi operator untuk mendapatkan kode PIN anda.

Masukan NIK dan PIN

Lokasi Kantor Desa Sered

Komentar Terkini

Link Penting

Statistik Pengunjung

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung

Website Desa Versi-Android